Kamis, 31 Maret 2016

ANNA JULIANIDA (2014-66-095)

“Penyakit Sirkulasi Jantung dan Pembuluh Darah Otak”

Data Perubahan Pola Penyakit dan Kematian di Indonesia

Perubahan adalah sebuah keniscayaan, termasuk perubahan pola penyakit dan kematian di Indoenesia. Perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh berbagai faktor dan adanya pengaruh dari era globalisasi. Melihat dari data-data perubahan pola penyakit dan kematian di Indonesia bisa memberikan gambaran kepada kita khususnya Kementerian Kesehatan tentang derajat kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya. Data-data itu juga bisa digunakan para pemangku kebijakan di bidang kesehatan untuk menentukan langkah-langkah strategis menuju Indonesia Sehat.
Perubahan pola penyakit dan kematian di Indonesia dimulai secara umum perubahan pola penyakit secara global maupun di Indonesia berubah dari Penyakit Menular maupun Penyakit Tidak Menular, tetapi di Indonesia belum mampu menuntaskan Penyakit Menular yang ada bahkan muncul Penyakit Menular yang lainnya, sedangkan Penyakit Tidak Menular juga terus Meningkat.
Pada tulisan ini, data-data yang disajikan berdasarkan Laporan Hasil Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007, 2013 serta sedikit data dari SUSENAS 2001.
Misalnya saja pada tahun 2000 terjadi perubahan penyakit penyebab kematian di Indonesia yaitu dari penyakit infeksi menjadi penyakit sirkulasi ( jantung dan pembuluh darah otak). penelitian dari SUSENAS 2001 menunjukkan bahwa jumlah kematian di Indonesia tahun 2000 sebanyak 3.322.

Gambar 1 : Penyakit Penyebab utama kematian di Indonesia pada tahun 2000

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa penyakit penyebab utama kematian di Indonesia tahun 200 adalah penyakit sirkulasi (jantung dan Pembuluh darah otak). penyakit sirkulasi ini termasuk dalam klasifikasi penyakit tidak menular/non-infeksi. Jumlah kematian dengan penyebab penyakit sirkulasi sebanyak 220 per 100.000, kemudian disusul dengan penyakit infeksi dengan jumlah 174 per 100.000 penduduk, dan pada urutan ketiga ada penyakit pernapasan sebanyak 85 per 100.000 penduduk. Pada data tersebut, kita juga bisa melihat bahwa pemerintah Indonesia dihadapkan dengan permasalah ganda, dimana penyakit infeksi belum sepenuhnya dicegah atau dihilangkan tetapi penyakit non infeksi/tidak menular terus menerus bertambah.
Sebelum kita berbicara mengenai data yang lebih banyak mengenai perubahan pola penyakit dari Penyakit Menular menjadi penyakit tidak menular dan data kematian di Indonesia. Hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dasar dari penyakit menular dan tidak menular serta batasan penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah di Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar maupun lainnya. 


Riset Kesehatan Dasar 2007

Batasan yang diteliti pada Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 untuk Penyakit Menular hanya terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vector, penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur, dan penyakti yang ditularkan melalui makanan atau air. Penyakit yang ditularkan oleh vector adalah filariasis, demam berdarah dengue dan malaria. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), pneumonia dan campak, sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah tifoid, hepatitis dan diare.
Sebelum berbicara mengenai data, hendaknya kita memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu mengenai penyakit-penyakit tersebut.
  • Filariasis (Penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gelaja klinis kronis dan kecacatan.
  • Demam berdarah dengue merupakan penyakit infeksi tular vector yang sering menyebabkan kejadian Luar Biasa, dan tidak sedikit menybebakan kemtian. Penyakit ini bersifat musima yiatu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vector penular hidup di genangan air bersih.
  • Malaria merupakan penyakit menulae yang menjadi perhatian global penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan karena juga sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa, berdampak luasa terhadap kualitas hidup dan ekonomi.

                                                  Filariasis                       DBD                             Malaria
Provinsi
Diagnosis
Diagnosis dan Gejala
Diagnosis
Diagnosis dan Gejala
Diagnosis
Diagnosis dan gejala
Pemakaian obat
NAD
0,35
0,64
0,50
1,10
1,89
3,66
36,41
Sumatera Utara
0,03
0,08
0,10
0,29
1,32
2,86
42,57
Sumatera Barat
0,04
0,08
0,12
0,59
0,55
1,65
46,33
Riau
0,04
0,07
0,21
0,78
0,85
2,03
43,55
Jambi
0,03
0,07
0,19
0,45
1,73
3,23
42,34
Sumatera Selatan
0,01
0,07
0,16
0,37
1,01
1,63
44,69
Bengkulu
0,03
0,09
0,07
1,24
4,81
7,14
60,99
Lampung
0,01
0,03
0,07
0,16
0,27
1,42
30,67
Bangka Belitung
0,02
0,10
0,04
0,43
5,07
7,09
58,32
Kepulauan Riau
0,06
0,15
0,21
0,42
0,79
1,41
64,77
DKI Jakarta
0,08
0,14
0,84
1,15
0,10
0,51
26,44
Jawa Barat
0,04
0,05
0,22
0,41
0,07
0,42
24,46
Jawa Tengah
0,03
0,06
0,30
0,46
0,08
0,41
23,03
DI Yogyakarta
0,00
0,03
0,25
0,43
0,07
0,30
20,00
Jawa Timur
0,01
0,04
0,16
0,25
0,05
0,18
34,83
Banten
0,02
0,06
0,27
0,52
0,09
0,32
28,57
Bali
0,05
0,10
0,13
0,29
0,10
0,31
43,08
Nusa Tenggara Barat
0,04
0,09
0,18
1,10
2,22
3,75
48,37
Nusa Tenggara Timur
0,12
0,26
0,26
2,45
5,73
12,04
47,78
Kalimantan Barat
0,04
0,06
0,16
0,43
1,82
3,26
53,66
Kalimantan Tengah
0,04
0,06
0,11
0,30
1,51
3,37
49,41
Kalimantan Selatan
0,02
0,04
0,17
0,27
0,31
1,41
27,35
Kalimantan Timur
0,02
0,03
0,33
0,54
1,06
1,67
51,28
Sulawesi Utara
0,03
0,07
0,15
0,38
0,45
2,12
43,10
Sulawesi Tengah
0,04
0,14
0,21
1,09
2,58
7,36
41,78
Sulawesi Selatan
0,03
0,08
0,09
0,60
0,32
1,37
23,62
Sulawesi Tenggara
0,04
0,11
0,15
0,96
0,88
2,16
36,36
Gorontalo
0,05
0,12
0,12
0,58
0,88
2,87
39,53
Sulawesi Barat
0,01
0,03
0,10
0,70
0,86
2,02
36,10
Maluku
0,00
0,09
0,09
0,42
2,87
6,06
39,90
Maluku Utara
0,06
0,09
0,18
0,77
3,31
7.23
49,27
Papua Barat
0,23
0,45
0,33
2,02
15,65
26,14
59,33
Papua
0,14
0,29
0,05
0,93
12,09
18,41
65,52
Indonesia
0,05
0,11
0,20
0,62
1,39
2,85
47,68
Angka prevalensi nasional untuk filariasis sebesar 1,1 per mil. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi filariasis melebihi angka prevalensi nasional, yaitu Provinsi NAD (6,4 per mil), Papua Barat (4,5 per mil), Papua (2,9 per mil), Nusa Tenggara Timur (2,6 per mil), Kepulauan Riau (1,5 per mil), DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1,4 per mil). 
Terdapat 12 prevalensi DBD lebih tinggi dari angka Nasional yaitu NTT (2,5%), Papua Barat (2,0%), Bengkulu dan DKI Jakarta (1,2%), Sulawesi tengah dan NTB serta NAD (1,1%), Sulawesi Tenggara (1,0 %), Papua (0,9%), Riau dan Maluku Utara (0,8%) dan Sulawesi Barat (0,7%).
DBD dahulu hanya dikenal sebagai penyakit pada anak-anak, namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25-34 tahun (0,7%) dan terendah pada bayi (0,2%).
Penyakit menular lainnya yang termasuk dalam penyakit pernasafan, Infeksi saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. ISpa yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat, dapat menjadi pneumonia. Neumonia merupakan Penyakit infeksi penyebab kematian utama, terutama pada balita.
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. Di indoensia, penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdamapak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta sering mengakibatkan kematian.

        ISPA                            Pneumonia                    TB                                Campak


Provinsi
Diagnosis
Diagnosis dan Gejala
Diagnosis
Diagnosis dan Gejala
Diagnosis
Diagnosis dan gejala
Diagnosis dan Gejala
NAD
11,98
36,64
1,44
3,87
0,73
1,45
1,06
Sumatera Utara
8,26
22,39
0,65
1,60
0,18
0,48
0,59
Sumatera Barat
8,98
26,38
0,80
2,49
0,37
1,03
1,90
Riau
6,28
22,87
0,42
1,61
0,42
1,00
0,72
Jambi
7,54
22,65
0,37
1,29
0,34
0,75
0,91
Sumatera Selatan
10,08
17,54
0,75
1,24
0,25
0,40
0,36
Bengkulu
14,50
29,84
0,73
2,04
0,33
0,86
0,54
Lampung
4,10
18,80
0,22
0,77
0,11
0,31
0,24
Bangka Belitung
10,38
30,32
0,43
1,29
0,12
0,49
0,32
Kepulauan Riau
9,88
25,78
0,39
1,22
0,38
0,83
0,50
DKI Jakarta
9,78
22,60
0,68
1,67
0,71
1,26
1,29
Jawa Barat
6,95
24,73
0,72
2,43
0,56
0,98
0,92
Jawa Tengah
8,74
29,08
0,53
2,12
0,63
1,47
0,70
DI Yogyakarta
8,22
22,65
0,44
1,81
0,36
1,58
0,37
Jawa Timur
6,38
20,55
0,36
1,06
0,24
0,54
0,41
Banten
7,98
28,39
0,56
2,36
1,13
2,01
1,01
Bali
5,64
21,49
0,42
1,76
0,29
0,53
0,26
Nusa Tenggara Barat
5,40
26,52
0,63
2,53
0,43
1,07
0,60
Nusa Tenggara Timur
12,04
41,36
0,84
4,41
0,40
2,05
0,43
Kalimantan Barat
5,94
17,97
0,37
1,10
0,43
0,82
0,50
Kalimantan Tengah
7,05
24,03
0,35
1,17
0,38
0,69
0,56
Kalimantan Selatan
5,06
27,06
0,47
2,28
0,47
1,36
0,61
Kalimantan Timur
12,19
27,52
0,66
1,42
0,34
1,02
0,56
Sulawesi Utara
2,59
20,52
0,10
0,95
0,21
0,62
0,39
Sulawesi Tengah
5,67
28,36
0,58
2,98
0,31
1,22
1,20
Sulawesi Selatan
4,20
22,90
0,47
2,92
0,23
1,03
0,58
Sulawesi Tenggara
6,73
22,75
0,78
2,45
0,31
1,00
0,33
Gorontalo
9,68
33,99
0,84
4,53
0,24
1,11
2,04
Sulawesi Barat
4,44
22,47
0,23
1,41
0,23
0,58
0,18
Maluku
9,80
30,40
0,31
2,07
0,15
0,47
0,37
Maluku Utara
6,90
25,20
0,50
2,40
0,19
0,47
0,27
Papua Barat
19,48
36,20
2,09
5,59
1,02
2,55
1,08
Papua
18,52
30,56
2,98
5,13
0,89
1,73
1,01
Indonesia
8,10
25,50
0,63
2,13
0,40
0,99
0,69


Keterangan table di atas adalah menunjukkan data prevalensi penyakit ISPA, Pneumonia, TB dan Campak menurut karakteristik pada RISKESDAS 2007.

Memacu dari data tersebut, dilihat bahwa empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi, antara lain Nusa Tenggara Timur, Nanggore Aceh Darussalam, Papua Barat, Gorontalo dan Papua.
Prevalensi angka nasional untuk tuberculosis paru klinis sebesar 1,0%. Dua belas di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional, tertinggi di Provinsi Papua Barat (2,5%) dan ternedah di Provinsi Lampung (0,3%). Sedangkan Prevelensi campak di Indonesia adalah sebesar 1,2%. Tertinggi di Provinsi Gorontalo (3,2%) dan terendah di provinsi Lampung dan Bali (0,4%).
Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relative sama, dan sedikit lebih tinggi di pedesaan. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.
Untuk kasus pneumonia, kelompok umur >55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. Pneumonia terdeteksi relative lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di pedesaan dibandingkan di perkotaan.
Prevalensi TB Paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi TB Paru 20% lebih tinggi daripada laki-laki dibandingkan perempuan, tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan di perkotaan dan empat kali pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi dan relative sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita.

Kesimpulan 
Penyakit tidak menular adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia dengan persentase 58,9% pada tahun 2007 dan terus meningkat. Indonesia mengalami transisi ganda, dimana Penyakit tidak menular terus bertambah dan begitu juga penyakit menular belum terselesaikan dengan baik.